Mahasiswa KKN IPMAFA Lakukan Penguatan UMKM Jepara di Tengah Gempuran Digitalisasi


Mediapati.com, Jepara - Tantangan digitalisasi di semua sektor menjadi perhatian mahasiswa KKN IPMAFA yang memilki program penguatan ekonomi dengan menyelenggarakan seminar digital marketing di Desa Sumanding, Kecamatan Kembang, Jepara, Rabu (13/8/2025). Salah satu tantangan menarik adalah dalam digital marketing adalah bagaimana teknik digital marketing seperti SEO dan media sosial relevan dengan usaha non ritel, seperti yang dialami oleh pelaku UMKM, Bapak Amin.

Amin bukan pedagang ritel. Ia seorang pengepul kapuk yang produknya dikirim ke pabrik untuk diolah menjadi kain. Tidak ada etalase, tidak ada pembeli yang datang langsung memilih barang. Maka ketika narasumber memaparkan strategi toko online, konten video dan pemasaran berbasis kepercayaan digital, Amin justru bingung: bagaimana semua itu relevan dengan usahanya?

Pertanyaan itu muncul dalam Seminar Digital Marketing "UMKM Go Digital" yang digelar Kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) Pemberdayaan Institut Pesantren Mathali'ul Falah (IPMAFA) SADESA bersama Permodalan Nasional Madani (PNM). Acara ini diikuti 18 pelaku UMKM dan 8 anggota PNM, dibuka pukul 09.00 WIB dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya.


Materi digital marketing disampaikan Isyrokh Fuaidi, seorang praktisi penerapan teknologi informasi sekaligus Dekan Fakultas Syariah IPMAFA, yang menekankan bahwa pemasaran digital kini menjadi kebutuhan, bukan sekadar tren, untuk membangun kepercayaan dan menjangkau pasar yang lebih luas dan berkelanjutan. Ia juga menjelaskan bahwa cakupan digital marketing sangat luas dan dapat diterapkan sesuai kebutuhan usahanya, termasuk untuk UMKM eceran atau yang bersifat partai besar. Digital marketing jangan dipahami hanya sebatas gambar produk yang ditawarkan secara online, melainkan juga bagaimana perusahaan atau pelaku usaha membranding usahanya dan dipercaya oleh pelanggan. Layanan juga termasuk aspek yang perlu mendapat sentuhan dalam digital marketing.

Sesi yang dipandu Ahmad Saiful Setiawan itu berkembang menjadi pembahasan tentang bagaimana digitalisasi sebenarnya bisa menyentuh sektor hulu, bukan hanya pelaku usaha yang berhadapan langsung dengan konsumen akhir. Mulai dari transparansi rantai pasok, pencatatan transaksi digital dengan mitra pabrik, hingga membangun jejak digital sebagai pemasok yang kredibel, semuanya dibahas sebagai bentuk lain dari "go digital" yang selama ini jarang disorot dalam seminar-seminar sejenis.

Bagi Suparjo, tuan rumah sekaligus pelaku UMKM setempat, kehadiran diskusi seperti ini sudah lama dinanti. "Semoga ke depan ada pelatihan lanjutan agar kami bisa langsung praktik," ujarnya.

Acara ditutup dengan sesi kolaboratif antara narasumber dan perwakilan PNM, serta interaksi hangat bersama para peserta. Saiful menilai antusiasme yang muncul, termasuk dari pelaku usaha non-ritel seperti Amin, membuktikan bahwa digitalisasi UMKM tidak bisa lagi dipukul rata dengan satu pendekatan. Setiap lini usaha, sekecil apa pun posisinya dalam rantai pasok, punya jalannya sendiri menuju dunia digital — dan justru pertanyaan-pertanyaan yang terlihat sederhana seperti milik Amin itulah yang membuka ruang diskusi paling jujur soal kesiapan UMKM Jepara menghadapi era baru ini.



Lebih baru Lebih lama