Veldhoven, Belanda — Hampir seluruh teknologi canggih yang kini dianggap biasa—mulai dari kecerdasan buatan, ponsel flagship, hingga mobil otonom—bergantung pada satu mesin yang nyaris tak pernah disentuh publik. Mesin itu bukan buatan Amerika atau Asia Timur, melainkan dirakit di sebuah kota kecil bernama Veldhoven, di selatan Belanda. Pembuatnya adalah ASML Holding NV, perusahaan yang kini memegang kendali paling strategis dalam industri semikonduktor global.
ASML bukan produsen chip seperti Intel, TSMC, atau Samsung. Perannya jauh lebih krusial: mereka satu-satunya perusahaan di dunia yang mampu memproduksi mesin Extreme Ultraviolet Lithography (EUV), alat yang diperlukan untuk mencetak chip 3 nanometer ke bawah. Tanpa mesin ini, kemajuan teknologi digital modern akan berhenti total.
Mesin EUV adalah hasil riset lebih dari 30 tahun dengan investasi puluhan miliar dolar AS. Harga satu unitnya kini diperkirakan menembus 350–400 juta dolar AS, atau setara lebih dari Rp6.000 triliun. Hingga hari ini, hanya segelintir perusahaan di tiga kawasan utama dunia—Amerika Serikat, Asia Timur, dan Eropa—yang mampu membelinya dan mengoperasikannya.
Di balik keberhasilan ASML berdiri rantai pasok paling eksklusif di dunia. Perusahaan optik Carl Zeiss SMT dari Oberkochen, Jerman, bertanggung jawab atas sistem cermin ultra-presisi. Sementara itu, teknologi laser berdaya tinggi dipasok oleh Trumpf, perusahaan teknologi industri asal Ditzingen, Jerman. Ribuan pemasok lain dari Eropa, Amerika, dan Jepang terlibat dalam satu ekosistem yang nyaris mustahil direplikasi.
Inti teknologi EUV terletak pada penciptaan cahaya dengan panjang gelombang 13,5 nanometer—jenis cahaya yang tidak tersedia secara alami di Bumi. Untuk menghasilkannya, mesin ASML menembakkan laser karbon dioksida ke 50.000 tetesan timah mikroskopis setiap detik. Setiap tetesan dihantam dua kali hingga berubah menjadi plasma bersuhu sekitar 220.000 Kelvin, jauh lebih panas dibandingkan permukaan Matahari. Dari ledakan inilah cahaya EUV dipancarkan dan diarahkan untuk mengukir pola sirkuit di atas wafer silikon.
Cahaya ekstrem ini tidak dapat difokuskan menggunakan lensa biasa. Solusinya adalah sistem cermin reflektif buatan Zeiss yang dikenal sebagai permukaan paling halus yang pernah diciptakan manusia. Jika cermin tersebut diperbesar seukuran Bumi, ketidakteraturan tertingginya hanya setebal satu kartu remi. Presisinya berada pada skala pikoradian, tingkat akurasi yang secara teoritis setara dengan membidik koin di permukaan Bulan dari Bumi.
Seluruh proses berlangsung dalam ruang hampa udara. Di dalamnya, wafer silikon dipindahkan dengan akselerasi lebih dari 20G—melampaui performa mobil Formula 1—namun tetap harus berhenti pada posisi yang presisinya di bawah satu nanometer. Artinya, dua lapisan sirkuit harus ditumpuk dengan kesalahan tak lebih dari lebar lima atom silikon. Di sinilah miliaran transistor dapat dipadatkan ke dalam chip seukuran kuku jari.
Kompleksitas mesin ini membuatnya tidak hanya mahal, tetapi juga strategis secara geopolitik. Pemerintah Amerika Serikat dan Uni Eropa secara aktif mengawasi ekspor mesin EUV karena perannya yang krusial dalam persaingan teknologi global, terutama terkait kecerdasan buatan dan komputasi tingkat lanjut.
Bagi publik yang ingin memahami skala keajaiban teknik ini secara visual, kanal YouTube Veritasium merilis video berjudul “The Ridiculous Engineering Of The World’s Most Important Machine”. Video tersebut telah ditonton jutaan kali dan menjadi salah satu referensi populer untuk memahami mengapa satu mesin dari Belanda bisa menentukan arah masa depan dunia digital.
Mesin EUV ASML bukan sekadar alat industri. Ia adalah titik temu sains, rekayasa, dan politik global—sebuah kotak seukuran bus yang diam-diam menggerakkan peradaban modern.
Sumber: FB Desas Desus Cerdas
