Mediapati.com, Pati - Halaman Pondok Pesantren Al Asas Kajen dipenuhi puluhan peserta yang mengikuti pemutaran dan bedah film dokumenter Pesta Babi karya Dandhy Laksono pada Kamis malam (14/5/2026) pukul 19.30 WIB. Sekitar 50 orang hadir dalam kegiatan nonton bareng (nobar) dan bedah film tersebut.
Film dokumenter 'Pesta Babi' menyoroti hilangnya hutan di Papua usai dikonversi menjadi perkebunan industri dengan mengatasnamakan ketahanan pangan dan transisi energi. Film ini juga merekam perjuangan masyarakat Papua dalam mempertahankan tanah leluhur mereka.
Dalam sambutannya, pengasuh sekaligus shohibul bait, Gus Faisal, mengatakan bahwa film dokumenter memiliki nilai berbeda dibanding film lainnya karena seluruh cerita, tokoh, dan lokasi yang ditampilkan merupakan kejadian nyata.
“Film dokumenter memiliki nilai berbeda karena seluruh cerita, tokoh, hingga lokasi yang ditampilkan merupakan kejadian nyata. Film ini mengajak masyarakat memahami makna di balik tradisi pesta babi di Papua serta membaca berbagai persoalan sosial yang terjadi di sekitarnya,” ujarnya.
Dalam film Pesta Babi, masyarakat Muyu di pedalaman Boven Digoel digambarkan mempertahankan hutan dan tanah adat melalui tradisi Awon Atap Bon yang berarti pesta babi. Bagi masyarakat Muyu, hutan bukan sekadar sumber ekonomi, melainkan bagian dari peradaban yang menjaga kehidupan mereka.
Narator film ini kemudian berbicara tentang ancaman proyek pangan dan energi negara yang masuk bersama aparat dan perusahaan-perusahaan besar.
Salah satu masyarakat mengaku tertarik mengikuti nobar ini karena sebelumnya pernah mengikuti pemutaran film dokumenter dan membaca karya Dandhy Laksono Ia mengatakan rasa penasaran muncul setelah mengetahui adanya penolakan terhadap pemutaran film Pesta Babi di beberapa daerah.
“Film ini menurut saya bisa menjadi bahan refleksi diri. Lewat film ini kita jadi melihat realita sosial yang terjadi di Papua dan bagaimana kebijakan pemerintah terkadang belum memperhatikan lingkungan maupun masyarakat adat,” ujarnya masyarakat kajen.
Masyarakat juga mengapresiasi terselenggaranya kegiatan nobar dan bedah film pesta babi di Kajen. Menurutnya, kegiatan seperti ini penting karena dibalik film dokumenter itu ada maknanya yang realita seperti sekarang.
