Mediapati.com, Kajen (18/7/2025) – Suasana hangat dan santai menyelimuti Langgar Al-Mabruk Desa Kajen pada Jumat malam. Warga, santri dan tokoh masyarakat berkumpul dalam majlis Ngaji Kajiwan yang kali ini mengangkat tema “Wiji Kawit” atau benih awal. Acara ini dikemas secara terbuka dan interaktif dengan pemantik diskusi Moh Aniq KHB dan Khumaidi Kliwonullah.
Ngaji bareng ini tidak hanya dimaksudkan sebagai pengajian keagamaan biasa, tetapi juga menjadi forum untuk menyampaikan ide, gagasan, dan refleksi bersama. Dengan nuansa diskusi yang egaliter, para peserta diajak untuk merenungi kembali benih-benih awal kehidupan, baik dari perspektif spiritual, budaya Jawa, maupun perkembangan modern.
Benih Awal dan Tiga Tahapan Kehidupan
Moh Aniq KHB menjelaskan bahwa dalam tradisi Jawa, kalender hijriah yang terdiri dari 12 bulan kerap dipahami dalam tiga fase kehidupan: wirogo (jasmani), wiromo (pekerti), dan wiroso (rasa/jiwa). Muharram sebagai bulan pertama disebut sebagai momen kembali ke benih diri, saat manusia melakukan muhasabah.
Ia mencontohkan filosofi desa-desa seperti Margoyoso, Margotuhu dan Margomulyo yang masing-masing menggambarkan perjalanan hidup dari jalan kebaikan, konsistensi hingga kemuliaan. Filosofi ini menunjukkan bahwa perjalanan spiritual selalu dimulai dari tubuh, lalu ke pekerti, hingga puncak pada jiwa.
Khumaidi Kliwonullah menambahkan bahwa dalam Islam, nasab bukan sekadar garis darah, melainkan juga misi nilai. Sabda Nabi tanākahū wa tanāsalū dipahami bukan hanya anjuran berketurunan, tetapi juga menjaga kesinambungan spiritual dan moral leluhur.
Keturunan bahkan bisa ditarik hingga 18 generasi ke atas, yang jika dihitung mencapai 262.144 leluhur. Angka ini mengejutkan karena persis dengan struktur memori digital dalam teknologi komputer: 2, 4, 8, 16, hingga 262.144. Menurut Kyai Aniq, hal ini bukan kebetulan, melainkan isyarat bahwa struktur digital meniru pola biologis manusia.
Dalam diskusi, para peserta diingatkan bahwa menjaga benih berarti menjaga kemurnian diri. Zina, misalnya, dilarang bukan sekadar urusan moral, tetapi karena merusak kemurnian memori leluhur dan memutus rantai spiritualitas. Seperti pesan dalam Kitab al-Hikam: “Man asyraqat bidayatuhu, asyraqat nihayatuhu” – siapa yang baik permulaannya, akan baik pula akhirnya.
Moh Aniq KHB menjelaskan bahwa dalam tradisi Jawa, kalender hijriah yang terdiri dari 12 bulan kerap dipahami dalam tiga fase kehidupan: wirogo (jasmani), wiromo (pekerti), dan wiroso (rasa/jiwa). Muharram sebagai bulan pertama disebut sebagai momen kembali ke benih diri, saat manusia melakukan muhasabah.
Ia mencontohkan filosofi desa-desa seperti Margoyoso, Margotuhu dan Margomulyo yang masing-masing menggambarkan perjalanan hidup dari jalan kebaikan, konsistensi hingga kemuliaan. Filosofi ini menunjukkan bahwa perjalanan spiritual selalu dimulai dari tubuh, lalu ke pekerti, hingga puncak pada jiwa.
Khumaidi Kliwonullah menambahkan bahwa dalam Islam, nasab bukan sekadar garis darah, melainkan juga misi nilai. Sabda Nabi tanākahū wa tanāsalū dipahami bukan hanya anjuran berketurunan, tetapi juga menjaga kesinambungan spiritual dan moral leluhur.
Keturunan bahkan bisa ditarik hingga 18 generasi ke atas, yang jika dihitung mencapai 262.144 leluhur. Angka ini mengejutkan karena persis dengan struktur memori digital dalam teknologi komputer: 2, 4, 8, 16, hingga 262.144. Menurut Kyai Aniq, hal ini bukan kebetulan, melainkan isyarat bahwa struktur digital meniru pola biologis manusia.
Dalam diskusi, para peserta diingatkan bahwa menjaga benih berarti menjaga kemurnian diri. Zina, misalnya, dilarang bukan sekadar urusan moral, tetapi karena merusak kemurnian memori leluhur dan memutus rantai spiritualitas. Seperti pesan dalam Kitab al-Hikam: “Man asyraqat bidayatuhu, asyraqat nihayatuhu” – siapa yang baik permulaannya, akan baik pula akhirnya.
Warisan Leluhur dan Tantangan Modernitas
Para peserta juga menyinggung ironi besar bahwa banyak nilai leluhur Nusantara kini justru dipelajari Barat. Konsep mawas diri ala Ki Ageng Suryomentaram kini menjadi basis algoritma AI. Konsep kuwalat tidak dikenal dalam hukum Barat, tetapi tetap diyakini kuat dalam tradisi Jawa. Sayangnya, masyarakat kita sering lupa dan tidak mampu mengembangkan nilai itu menjadi sistem yang relevan.
Padahal, warisan seperti sistem irigasi tradisional, ilmu Mbah Ahmad Mutamakkin, hingga falsafah kerja masyarakat desa menyimpan nilai ekologis, sosial, dan spiritual yang sangat relevan dengan krisis zaman modern.
Forum Ngaji Kajiwan malam itu akhirnya menjadi ruang untuk dudah kaweruh yakni untuk membuka pengetahuan yang selama ini dianggap sinengker (tersembunyi). Diskusi berlangsung cair, dengan kesadaran bahwa ilmu leluhur tidak boleh dibekukan dalam mitos, tetapi perlu dihidupkan kembali sebagai ilmu yang rasional dan aplikatif. Suasana santai di Langgar Al-Mabruk menghadirkan rasa keakraban, seolah membangun kembali balai desa sebagai ruang bersama, bukan sekadar milik jabatan. Dari pertemuan itu, mengemuka kesadaran bahwa benih awal (wiji kawit) bukan hanya soal kelahiran biologis, melainkan soal visi, nilai, dan strategi hidup yang perlu dijaga bersama.
Ngaji di Kajen kali ini menegaskan bahwa desa tidak boleh hanya menjadi objek pembangunan, melainkan sumber nilai peradaban. Sebagaimana ditegaskan para pemantik, menjaga wiji kawit berarti menata ulang arah kehidupan: dari raga ke pekerti, hingga jiwa. Pada kesimpulannya, kesadaran kolektif suatu masyarakat bukan hanya menyimpan sejarah, tetapi juga potensi untuk menyemai kembali benih peradaban yang relevan dengan zaman digital dan tantangan global. Dari Langgar Al-Mabruk, semangat itu kembali disemai agar lahir generasi yang tidak hanya membawa darah leluhur, tetapi juga nilai dan tugas hidupnya.
Para peserta juga menyinggung ironi besar bahwa banyak nilai leluhur Nusantara kini justru dipelajari Barat. Konsep mawas diri ala Ki Ageng Suryomentaram kini menjadi basis algoritma AI. Konsep kuwalat tidak dikenal dalam hukum Barat, tetapi tetap diyakini kuat dalam tradisi Jawa. Sayangnya, masyarakat kita sering lupa dan tidak mampu mengembangkan nilai itu menjadi sistem yang relevan.
Padahal, warisan seperti sistem irigasi tradisional, ilmu Mbah Ahmad Mutamakkin, hingga falsafah kerja masyarakat desa menyimpan nilai ekologis, sosial, dan spiritual yang sangat relevan dengan krisis zaman modern.
Forum Ngaji Kajiwan malam itu akhirnya menjadi ruang untuk dudah kaweruh yakni untuk membuka pengetahuan yang selama ini dianggap sinengker (tersembunyi). Diskusi berlangsung cair, dengan kesadaran bahwa ilmu leluhur tidak boleh dibekukan dalam mitos, tetapi perlu dihidupkan kembali sebagai ilmu yang rasional dan aplikatif. Suasana santai di Langgar Al-Mabruk menghadirkan rasa keakraban, seolah membangun kembali balai desa sebagai ruang bersama, bukan sekadar milik jabatan. Dari pertemuan itu, mengemuka kesadaran bahwa benih awal (wiji kawit) bukan hanya soal kelahiran biologis, melainkan soal visi, nilai, dan strategi hidup yang perlu dijaga bersama.
Ngaji di Kajen kali ini menegaskan bahwa desa tidak boleh hanya menjadi objek pembangunan, melainkan sumber nilai peradaban. Sebagaimana ditegaskan para pemantik, menjaga wiji kawit berarti menata ulang arah kehidupan: dari raga ke pekerti, hingga jiwa. Pada kesimpulannya, kesadaran kolektif suatu masyarakat bukan hanya menyimpan sejarah, tetapi juga potensi untuk menyemai kembali benih peradaban yang relevan dengan zaman digital dan tantangan global. Dari Langgar Al-Mabruk, semangat itu kembali disemai agar lahir generasi yang tidak hanya membawa darah leluhur, tetapi juga nilai dan tugas hidupnya.